lewat surat yang kau sampaikan
ku coba memaknai rangakaian garis-garis hitam
berbentuk huruf, kata dan tulisan
ku raba sedikit demi sedikit tulisanmu
kumaknai arti hitamnya kertasmu
Ketika itu aku mulai bisa menulis lagi
seperti aku menulis sajak dengan tinta hitam dalam kertas
yang putih
tinta demi kata kutorehkan karena ada gumpalan sesak di hati
aku berhenti ketika mata dan hatiku beradu dengan otakku
pacuan jantung berdetak karenanya
terbentur hitamnya kosong imajinasi yang kusut
rangkaian-rangkaian menjadi kosong tanpa arti
mencoba luruskan pandangan dan hati
hitam dan selalu hitam tampak dimata
dan ketika aku mulai tak bisa menulis
aku terdiam, aku menangis, aku hitam….
tak ingin rasanya berhenti untuk menulis puisi
namun apa daya, yang tertulis selalu hitam dalam putih
seharusnya itu pula yang meyakinkan aku
kenyataan lebih pahit dari sebuah harapan
dalam diam kubercanda dengan asiknya kata
dalam diam kumenangis dengan senyumanku
seperti pula nada terdengar lirih
membuat jiwaku terhenyak
sajakmu ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar